Jumat, 19 November 2021

EKSIKOPEDIA "Tanaman Kiwi"

 

Tanaman Kiwi (Actinidia deliciosa)

Buah Kiwi, Mudah Dibudidayakan dan Menguntungkan

A.    Deskripsi

Tanaman kiwi berasal dari Shaanxi, Tiongkok. Buah tersebut diberi nama kiwi karena kulitnya menyerupai bulu burung kiwi, burung nasional Selandia Baru. Tanaman kiwi tumbuh di lereng pegunungan kawasan hutan atau di antara semak-semak pohon rendah. Tanaman ini dapat memanjat tanaman lainnya untuk menopang dan bersifat epifit. Taksonomi tanaman buah kiwi (Actinidia deliciosa) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:  

Kingdom : Plantae

Divisi      : Magnoliophyta

Kelas       : Magnoliopsida

Ordo        : Ericales

Famili      : Actinidiaceae

Genus      : Actinidia

Spesies    : Actinidia deliciosa



B.     Morfologi

Buah kiwi umumnya berbentuk oval dengan panjang 5-8 cm dan memiliki diameter 4-5 cm. Kulit buah berwarna hijau gelap dan kemasan serta daging buah berwarna hijau terang atau kuning emas. Buah memiliki barisan biji bewarna hitam kecil yang dapat dikonsumsi. Buah ini memiliki terkstur lembut dan memiliki aroma bau yang unik. Permukaan kulit buah kiwi terkadang memiliki bulu dan terkadang tidak memiliki bulu.

Daun tanaman kiwi memiliki bentuk oval melingar, permukaan kasar, Daun muda pada kiwi dilapisi bulu halus berwarna kemerahan dan daun tua berwarna hijau gelap dengan bulu halus dipermukaan atasnya. Bunga kiwi berwarna putih kekuningan dan memiliki kelopak berkisar 5-6 kelopak. Bunga jantan dan bunga betina pada tanaman berbeda akan melekat menjadi satu untuk mengatur proses penyerbukan tanaman. Penyerbukan biasanya dibantu oleh angin dan hewan.

Batang tanaman kiwi memiliki bentuk bulat memanjang, memiliki warna yang beragam mulai dari kecoklatan, abu-abu, dan kehijauan. Batang ini memiliki percabangan yang sangat banyak, memiliki lapisan kulit tipis, dan memiliki batang dalam lunak, tetapi mampu menyokong buah, daun, dan bunga. Tanaman kiwi memiliki akar semu atau tunggang. Akar ini terdiri dari akar serabut yang ada di permukaan tanah dan akar tunggal berada di dalam tanah.

C.    Manfaat

Berbagai penelitian telah dilakukan terhadap antioksidan pada buah kiwi karena kemampuannya melindungi DNA di dalam inti sel manusia dari kerusakan akibat radikal bebas, untuk menghambat penuaan dini dan beberapa jenis penyakit degeneratif, untuk mencegah kanker dan kardiovaskuler, penyumbatan pembuluh darah, stroke dan tekanan darah tinggi, gagal ginjal, diabetes, katarak dan glukoma. Antioksidan pada buah kiwi antara lain yaitu vitamin C, β karoten, klorofil a dan b, dan beberapa senyawa flavonoid. Buah kiwi mengandung banyak fitonutrien serta vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan. Berikut adalah beberapa manfaat mengkonsumsi buah kiwi:

1.        Serat sebagai pengendali gula darah, buah kiwi termasuk buah yang memiliki banyak serat. Para peneliti telah menemukan bahwa diet yang mengandung banyak serat dapat menurunkan kadar kolesterol tinggi, sehingga mengurangi risiko serangan jantung. Serat juga baik untuk membantu mencegah kanker usus besar. Selain itu, serat pada buah kiwi baik untuk menjaga kadar gula darah penderita diabetes.

2.      Mencegah asma, buah kiwi dapat memberikan pengaruh perlindungan yang signifikan terhadap gejala pernapasan yang terkait dengan asma.

3.      Mengurangi kadar lemak darah, mengkonsumsi beberapa buah kiwi setiap hari secara signifikan dapat menurunkan resiko pembekuan darah dan mengurangi kadar lemak (trigliserida) dalam darah sehingga membantu melindungi kesehatan jantung.

Daftar pustaka

Inggrid, H. M., Dan Santoso, H. (2014). Ekstraksi Antioksidan Dan Senyawa Aktif Dari Buah Kiwi (Actinidia deliciosa). Research Report-Engineering Science, 2.

Mayunita, A. (2017). Perbandingan Kadar Vitamin C Pada Buah Kiwi Hijau (Actinidia deliciosa) Dan Kiwi Emas (Actinidia chinensis) Yang Dijual Di Supermarket Kota Brebes. Ilmiah Civitas Akademika Politeknik Mitra Karya Mandiri Brebes. 2(2)

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM "POLA AKTIVITAS HEWAN"

 

POLA  AKTIVITAS HEWAN

 

A.      TUJUAN  

  1. Untuk mengetahui jarak edar harian (Achatina fulica) dan relasi dengan ukuran tubuhnyA.
  2. Untuk mengetahui bagaimana pola aktivitas harian bekicot (Achatina fulica) dengan pola perubahan kondisi faktor lingkungan di habitatnya.

B.       DASAR TEORI

Pola aktivitas hewan merupakan pergerakan atau aktivitas suatu organisme akibat adanya stimulus. Hewan hanya dapat hidup, tumbuh, dan berkembangbiak dalam suatu lingkungan yang menyediakan kondisi dan sumberdaya serta terhindar dari faktor-faktor yang membahayakan. Pola aktivitas hewan sangat di pengaruhi oleh keadaan fisik-kimia lingkungan yaitu suhu, kelembaban udara, pH, dan intensitas cahaya. Kolerasi antara interaksi hewan dengan lingkungannya dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Adanya perubahan tempat tinggal maka hewan juga merespon terhadap perubahan tersebut yang meliputi perubahan fisik, fisiologis, serta tingkah laku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sedang dihadapinya (Resa et al., 2019).

Semua organisme memiliki perilaku. Perilaku merupakan bentuk respon terhadap kondisi internal dan eksternalnya. Menurut Suhara (2010), perilaku diartikan sebagai aktivitas organisme akibat adanya suatu stimulus. Suatu respon disebut perilaku apabila respon tersebut berpola, yaitu memberikan respon tertentu terhadap stimulus tertentu. Pola perilaku tersebut akan memperlihatkan kemampuan hewan untuk bertahan di dalam kehidupannya. Setiap spesies hewan memiliki pola perilaku yang khas yang disesuaikan dengan struktur anatomi tubuhnya. Menurut Campbell (2008), perilaku yang paling penting untuk mempertahankan kehidupan adalah perilaku makan dan perilaku seksual.

Kebutuhan dasar seekor hewan dapat dijabarkan oleh sebuah ethogram, dilengkapi dengan deskripsi perkembangan, sosial, dan psikologi yang spesifik. Format ethogram dapat bervariasi, tetapi pada umumnya meliputi perilaku epimeletik, perilaku etepimeletik, perilaku makan, perilaku membuang kotoran, perilaku mencari perlindungan, perilaku memeriksa, perilaku istirahat, perilaku meniru, perilaku seksual, dan perilaku agonistik (Hardiyanti et al., 2015).

Bekicot (Achatina fulica) merupakan hewan bertubuh lunak dan memiliki cangkang yang termasuk ke dalam filum mollusca dari kelas gastropoda yang berarti berjalan menggunakan perut (tubuhnya). Menurut Nastiti (2013), Bekicot berasal dari Afrika Timur, walaupun tergolong lambat dalam berjalan (melata) bekicot telah tersebar ke seluruh dunia dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini karena bekicot berkembangbiak dengan cepat. Bekicot menggunakan paru-paru untuk bernafas. Bekicot termasuk keong darat yang pada umumnya memiliki kebiasaan hidup ditempat lembab dan tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Kondisi lingkungan yang optimal untuk bekicot adalah di daerah tropis basah. Bekicot aktif di malam hari (noktural). Sifat nokturnal bekicot bukan semata-mata ditentukan oleh faktor gelap di waktu malam melainkan ditentukan oleh faktor suhu dan kelembaban lingkungannya (Resa et al., 2019).

Bekicot (Achatina fulica) merupakan hewan yang bersifat hermaprodit atau berkelamin ganda karena memiliki dua macam sel gamet pada tubuhnya namun perkawinan tidak dapat dilakukan sendiri melainkan membutuhkan individu lain pada proses kawinnya (Naomi et al, 2019). Perilaku kawin pada bekicot terdapat empat fase yaitu fase pertemuan, fase bercumbu, fase kawin, dan fase akhir (Resa et al., 2019). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bekicot dapat berupa suhu, pH, kelembapan, Intensitas cahaya, dan media tumbuh (Khaerunnisa, 2016).

Jarak edar merupakan perilaku aktif hewan di habitatnya terutama saat mencari makan dan mencari pasangan. Perilaku harian dan jarak edar bekicot menunjukkan pola perilaku harian bekicot dan jarak harian yang ditempuh bekicot. Bekicot (Achatina fulica) cenderung memilih daerah-daerah tertentu untuk bersarang akan tetapi jarang kembali ke tempat yang sama persis. Bekicot (Achatina fulica) dewasa mempertahankan wilayah jelajah dan daerah istirahat yang tidak tetap, sedangkan bekicot (Achatina fulica) yang belum dewasa cenderung berpindah tempat (Fitriani, 2015).

 

C.       METODOLOGI

1.      Alat :

a.       Tali rapia

b.      Pasak 5 buah

c.       Meteran

d.      Alat tulis

e.       Smartphone

f.       Gunting

2.      Bahan :

a.       Bekicot (Achatina fulica) 3 ekor

3.      Prosedur kerja :

a.       Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.

b.      Dilakukan pengukuran panjang bekicot (Achatina fulica).

c.       Dibuat area untuk pengamatan yang akan dilakukan (3x3 m), kemudian diletakkan di kondisi yang berbeda seperti area berumput dan tidak berumput dan diamati .

d.      Dilakukan pengamatan selama 24 jam, diamati jarak edarnya selama 2 jam sekali serta diukur suhu dan kelembabannya.

e.       Dicatat hasil pengamatan pada tabel hasil pengamatan.

 

D.      HASIL PENGAMATAN

1.      Tabel Pengamatan jarak edar bekicot (Achatina fulica)

Nomor

Panjang Cangkang (cm)

Keterangan*

Jarak Edar ** (cm)

Urut

Kode

1

Ava

7,5 cm

Bergerak aktif

750 cm

2

Naru

7 cm

Bergerak sedang

704 cm

3

Nobi

6 cm

Bergerak lambat

698 cm

 

2.      Tabel pengamatan pola aktivitas bekicot (Achatina fulica)

No

Kode hewan

Waktu / 2 jam sekali

Jarak tempuh

Aktivitas

Deskripsi

1

Ava

07.00-09.00

20 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif mengeluarkan kepala dan memanjat patok setinggi 20 cm yang berada di tengah plot.

09.00-11.00

7 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif menuruni patok sejauh 7 cm.

11.00-13.00

0 cm

Inaktif

Bekicot tidak melakukan pergerakan apapun.

13.00-15.00

17 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif menuruni patok dan berjalan diatas tanah sejauh 17 cm

15.00-17.00

18 cm

Makan & aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan maju setelah makan sejauh 18 cm

17.00-19.00

62 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif maju sejauh 62 cm

19.00-21.00

77 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan maju sejauh 77 cm

21.00-23.00

80 cm

Eliminatif & aktif

Bekicot mengeluarkan feses setelah itu bergerak maju sejauh 80 cm

23.00-01.00

130 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan maju sejauh 130 cm

01.00-03.00

150 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan sejauh 150 cm

03.00-05.00

110 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan sejauh 110 cm

05.00-07.00

80 cm

Aktif & inaktif

Bekicot bergerak aktif sejauh 80 cm, setelah itu berdiam diri menempel pada batang pisang

2

Naru

07.00-09.00

17 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif memanjat patok setinggi 17 cm yang berada di tengah plot

09.00-11.00

13 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif menuruni patok sejauh 13 cm

11.00-13.00

0 cm

Inaktif

Bekicot tidak melakukan pergerakan apapun

13.00-15.00

6 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif menuruni patok dan berjalan diatas tanah sejauh 6 cm

15.00-17.00

16 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan maju sejauh 16 cm

17.00-19.00

66 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan maju sejauh 66 cm

19.00-21.00

103 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan maju sejauh 103 cm

21.00-23.00

137 cm

Makan & aktif

Bekicot makan, setelah itu bergerak aktif berjalan sejauh 137 cm

23.00-01.00

140 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan sejauh 140 cm

01.00-03.00

65 cm

Eliminatif & aktif

Bekicot mengeluarkan feses, kemudian bergerak aktif berjalan sejauh 65 cm

03.00-05.00

87 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan sejauh 87 cm

05.00-07.00

54 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan sejauh 54 cm

3

Nobi

07.00-09.00

26 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif memanjat patok setinggi 26 cm yang berada di tengah plot

09.00-11.00

25 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif menuruni patok sejauh 25 cm

11.00-13.00

0 cm

Inaktif

Bekicot tidak  melakuakan pergerakan apapun

13.00-15.00

16 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif menuruni patok dan berjalan diatas tanah sejauh 16 cm

15.00-17.00

13 cm

Makan & aktif

Bekicot makan, kemudian bergerak aktif berjalan sejauh 13 cm

 

 

17.00-19.00

18 cm

Eliminatif & aktif

Bekicot mengeluarkan feses dan bergerak aktif berjalan sejauh 18 cm

19.00-21.00

87 cm

Kawin & aktif

Bekicot melakukan perkawinan dan bergerak aktif berjalan sejauh 87 cm

21.00-23.00

90 cm

Makan & aktif

Bekicot makan dan bergerak aktif berjalan sejauh 90 cm

23.00-01.00

168 cm

Eliminatif & aktif

Bekicot mengeluarkan feses dan bergerak aktif berjalan sajauh 168 cm

01.00-03.00

98 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan sejauh 98 cm

03.00-05.00

95 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan sejauh 95 cm

05.00-07.00

62 cm

Aktif

Bekicot bergerak aktif berjalan sejauh 62 cm

 

E.       PEMBAHASAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mengenai pola aktivitas hewan, bertujuan untuk mengetahui jarak edar harian (Achatina fulica) dan relasi dengan ukuran tubuhnya dan untuk mengetahui bagaimana pola aktivitas harian bekicot (Achatina fulica) dengan pola perubahan kondisi faktor lingkungan di habitatnya.

Pola aktivitas hewan merupakan pergerakan atau aktivitas suatu organisme akibat adanya stimulus. Jarak edar merupakan perilaku aktif hewan di habitatnya terutama saat mencari makan dan mencari pasangan (Fitriani, 2015). Pada praktikum pola aktivitas hewan, hewan yang dijadikan bahan percobaan atau pengamatan adalah bekicot (Achatina fulica).

Bekicot (Achatina fulica) merupakan hewan dari filum mollusca yang bertubuh lunak dan memiliki cangkang. Bekicot pada umumnya hidup ditempat lembab dan tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Bekicot aktif di malam hari (noktural). Sifat nokturnal bekicot ditentukan oleh faktor suhu dan kelembaban lingkungannya (Resa et al., 2019). Perilaku atau aktivitas harian bekicot (Achatina fulica) meliputi perilaku aktif, perilaku makan, perilaku eliminatif, perilaku inaktif, dan perilaku kawin. Perilaku aktif merupakan kondisi ketika bagian kepala bekicot keluar dari cangkang dan berpindah tempat. Perilaku eliminatif merupakan perilaku bekicot mengeluarkan hasil pencernaan. Perilaku inaktif merupakan perilaku bekicot dari cangkang (berdiam diri) dan hanya bagian badan yang menempel pada bagian batang bawah daun tumbuhan (Fitriani, 2015).

Berdasarkan hasil pengamatan ke-1 pada bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Ava, diperoleh hasil bahwa bekicot dengan kode hewan Ava ini memiliki pergerakan yang aktif bila dibandingkan dengan bekicot dengan kode hewan Naru dan Nobi. Jarak edar yang ditempuh bekicot Ava selama 24 jam adalah 750 cm dan panjang cangkang bekicot adalah 7,5 cm. Pada pukul 07.00-09.00, bekicot bergerak aktif dengan menaiki patok yang berada di tengah plot setinggi 20 cm. Pada pukul 09.00-11.00, bekicot bergerak aktif dengan menuruni patok yang berada ditengah plot sejauh 7 cm. Pada pukul 11.00-13.00, bekicot melakukan perilaku inaktif karena tidak melakukan pergerakan apapun. Pada pukul 13.00-15.00, bekicot melakukan perilaku aktif dengan berjalan sejauh 17 cm. Pada pukul 15.00-17.00, bekicot melakukan perilaku makan dan perilaku aktif karena setelah bekicot makan beberapa menit kemudian bekicot berjalan sejauh 18 cm. Pada pukul 17.00-19.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 62 cm. Pada pukul 19.00-21.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 77 cm. Pada pukul 21.00-23.00, bekicot melakukan aktivitas eliminatif karena mengeluarkan feses dan aktivitas aktif karena berjalan sejauh 80 cm. Pada pukul 23.00-01.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 130 cm. Pada pukul 01.00-03.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 150 cm. Pada pukul 03.00-05.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 110 cm. Pada pukul 05.00-07.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dan aktivitas inaktif karena bekicot berjalan sejauh 80 cm kemudian berdiam diri dengan menempel di batang pisang.

Berdasarkan hasil pengamatan ke-2 pada bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Nobi, diperoleh hasil bahwa bekicot dengan kode hewan Nobi ini memiliki pergerakan yang sedang dengan jarak edar selama 24 jam adalah 704 cm dan panjang cangkang bekicot adalah 7 cm. Pada pukul 07.00-09.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan menaiki patok yang berada ditengah plot setinggi 17 cm. Pada pukul 09.00-11.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan menuruni patok yang berada ditengah plot sejauh 13 cm. Pada pukul 11.00-13.00, bekicot melakukan aktivitas inaktif karena bekicot tidak melakukan pergerakan apapun. Pada pukul 13.00-15.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 6 cm. Pada pukul 15.00-17.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 16 cm. Pada pukul 17.00-19.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 66 cm. Pada pukul 19.00-21.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 103 cm. Pada pukul 21.00-23.00, bekicot melakukan aktivitas makan dan aktivitas aktif karena setelah bekicot makan kemudian bekicot berjalan sejauh 137 cm. Pada pukul 23.00-01.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 140 cm. Pada pukul 01.00-03.00, bekicot melakukan aktivitas eliminatif dan aktivitas aktif karena setelah bekicot mengeluarkan feses, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 65 cm. Pada pukul 03.00-05.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 87 cm. Pada pukul 05.00-07.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 54 cm.

Berdasarkan hasil pengamatan ke-3 pada bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Nobi, diperoleh hasil bahwa bekicot dengan kode Nobi ini memiliki pergerakan yang lambat bila dibandingkan dengan kode hewan Ava dan Naru. Jarak edar yang ditempuh bekicot Nobi selama 24 jam adalah 698 cm dan panjang cagkangnya adalah 6 cm. Pada pukul 07.00-09.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan menaiki patok yang berada ditengah plot setinggi 26 cm. Pada pukul 09.00-11.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan menuruni patok yang berada ditengah plot sejauh 25 cm. Pada pukul 11.00-13.00, bekicot melakukan aktivitas inaktif karena bekicot tidak melakukan pergerakan apapun. Pada pukul 13.00-15.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 16 cm. Pada pukul 15.00-17.00, bekicot melakukan aktivitas makan dan aktivitas aktif karena setelah bekicot makan, bekicot berjalan sejauh 13 cm. Pada pukul 17.00-19.00, bekicot melakukan aktivitas eliminatif dan aktivitas aktif karena bekicot mengeluarkan feses dan berjalan sejauh 18 cm. Pada pukul 19.00-21.00, bekicot melakukan aktivitas kawin dan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 87 cm. Pada pukul 21.00-23.00, bekicot melakukan aktivitas makan dan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 90 cm. Pada pukul 23.00-01.00, bekicot melakukan aktivitas eliminatif dan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 168 cm. Pada pukul 01-03.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 98 cm. Pada pukul 03.00-05.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 95 cm. Pada pukul 05.00-07.00, bekicot melakukan aktivitas aktif dengan berjalan sejauh 62 cm.

Menurut Resa et al. (2019), Bekicot merupakan hewan nokturnal yang aktif di malam hari dan sifat nokturnal bekicot ditentukan oleh faktor suhu dan kelembaban di lingkungannya. Beberapa faktor yang mempengaruhi kenerja hewan di lingkungannya adalah pH, suhu, dan kelembaban. Kondisi suhu dan kelembaban disekitar lokasi pengamatan selama 24 jam adalah pada pukul 07.00-09.00 memiliki suhu 30.8℃ dan kelembaban 77%, pada pukul 09.00-11.00 memiliki suhu 31℃ dan kelembaban 68%, pada pukul 11.00-13.00 memiliki suhu 38.2℃ dan kelembaban 47%, pada pukul 13.00-15.00 memiliki suhu 33.9℃ dan kelembaban 54%, pada pukul 15.00-17.00 memiliki suhu 32℃ dan kelembaban 59%, pada pukul 17.00-19.00 memiliki suhu 31.8℃ dan kelembaban 60%, pada pukul 19.00-21.00 memiliki suhu 31.6 ℃ dan kelembaban 62%, pada pukul 21.00-23.00 memiliki suhu 30℃ dan kelembaban 68%, pada pukul 23.00-01.00 memiliki suhu 28℃ dan kelembaban 71%, pada pukul 01.00-03.00 memiliki suhu 26.2℃ dan kelembaban 73%, pada pukul 03.00-05.00 memiliki suhu 24℃ dan kelembaban 77%, dan pada pukul 05.00-07.00 memiliki suhu 28℃ dan kelembaban 69%.

Bekicot mempunyai sepasang tentakel yang berfungsi sebagai indera peraba dan perasa yang bergerak dengan perut, tentakel berfungsi untuk merasakan perubahan suhu tubuhnya, sebagai petunjuk jalan dan petunjuk adanya makanan. Bekicot memiliki lendir dan dapat digunakan untuk membantu penyembuhan luka karena lendir bekicot mempunyai kandungan Achasin dan Acharan sulfat.

 

F.        KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mengenai pola aktivitas hewan, dapat disimpulkan sebagai berikut.

1.      Bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Ava memiliki jarak edar selama 24 jam sejauh 750 cm dan memiliki panjang cangkang 7,5 cm. Bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Naru memiliki jarak edar selama 24 jam sejauh 704 cm dan memiliki panjang cangkang 7 cm. Bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Nobi memiliki jarak edar selama 24 jam sejauh 698 cm dan memiliki panjang cangkang 6 cm.

2.      Proses pengamatan pola aktivitas bekicot di pengaruhi oleh perubahan suhu dan kelembaban. Bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Ava, pada proses pengamatan yang dilakukan selama 24 jam bekicot tersebut melakukan aktivitas aktif, aktivitas inaktif, aktivitas makan, aktivitas eliminatif. Bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Naru, pada proses pengamatan yang dilakukan selama 24 jam bekicot tersebut melakukan aktivitas aktif, aktivitas inaktif, aktivitas makan, dan aktivitas eliminatif. Bekicot (Achatina fulica) dengan kode hewan Nobi, pada proses pengamatan yang dilakukan selama 24 jam bekicot tersebut melakukan aktivitas aktif, aktivitas inaktif, aktivitas makan, aktifitas eliminatif, dan aktivitas kawin.

 

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A. Dan J. B. Recce. 2008. Biologi, Edisi Kedelapan Jilid 3. Jakarta : Erlangga

Fitriani, F. 2015. Perilaku Harian Dan Jarak Edar Achatina fulica. Skripsi. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor

Hardiyanti, Hala, Y., Dan Tenriawaru, E. K. 2015. Identifikasi Pola Perilaku Pada Semut Jepang Dewasa. Jurnal Bionature. 16(2) : 63 – 68

Khaerunnisa, L. 2016. Pengaruh Perbedaan Media Penetasan Terhadap Daya Tetas Telur Dan Daya Hidup Bekicot (Achatina fulica). Jurnal Biologi 5(3) : 29-32

Nastiti, Rima. 2013. Sukses Budidaya Bekicot Mudah, Murah, dan Untung Melimpah. Yogyakarta : Pustaka Baru Press

Naomi, A., Hamzah, L. T., Nainggolan, Y. N., Dan Kumalawati, A. L. 2019.  Analisi Keberadaan Bekicot (Achatina fulica) Dengan Metode Indirect Sampling Di Lingkungan Universitas Tidar. Proceeding Of Biology Education. 3(1) : 178-184

Resa, D., Maulita, N. I., dan Albar, R. 2019. Pola Aktivitas Dan Jarak Edar Achatina Fulica Di Pemukiman Warga Desa Deudap Pulo Nasi Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Prosiding Biotik. 5(1) : 47-53

Suhara. 2010. Modul Pembelajaran Ilmu Kelakuan Hewan (Animal Behaviour). Bandung : Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI

MAKALAH BIOKIMIA

MAKALAH BIOKIMIA   LEMAK Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Biokimia Dosen pengampu : Dr. Yunita, M.pd ...